Sinarnya meredup. Kemana?
Mengubur dirinya dalam kegelapan
Sinarnya meredup. Kemana?

Aku butuh sinar di matamu. agar tidak salah arah, agar aku tahu jalan pulang
Sinarnya meredup. Kemana?
Mengubur dirinya dalam kegelapan
Sinarnya meredup. Kemana?

Aku butuh sinar di matamu. agar tidak salah arah, agar aku tahu jalan pulang
Perlakuan itu
Intonansi itu
Sejenak membuatku ragu
Hingga kutekan ego.
Aku benci merasa tidak aman
Akan kulepas, akan kucari amanku
Entah di ujung dunia, entah di sudut kota
Entah harus kucari, atau kuciptakan
Entah harus menemukan, atau ditemukan
Yang aku percaya, aku berhak merasa aman

Tidak banyak yang bisa aku ceritakan di hari ini, karena tidak banyak yang bisa aku rasakan saat ini. Rasanya seperti mengawang di antara bumi dan langit. Tidak jelas apa yang aku pijak, tidak jelas apa yang aku lihat. Untuk apa semua ini, aku tidak tahu. Kenapa aku bisa disini saat ini, aku pun tidak tahu.
Menurutku tidak ada yang benar-benar hitam dan benar-benar putih di dunia ini. semua abu-abu. Tetapi abu-abu ku pun pergi meninggalkanku. Warnaku menjadi semu. Semua terasa kosong. Dan aku tidak bisa mendeskripsikan bagaimana rasa kosong yang membabat diriku hari ini.
Tuhan, aku ingin kembali.
“Apa yang anda lakukan ketika anda jenuh?”
Today, someone randomly asked me that question.
Setelah otak berputar sekitar 2 detik, lalu kujawab “menjadikan jenuh sebagai teman”
Sungguh, aku menganggap jenuh sebagai temanku. Kadang, jenuh itu menyenangkan. Kadang, jenuh itu merindukan.
Tidak mudah menjadikan jenuh sebagai teman. Aku mencoba bernegosiasi dengan diriku sendiri untuk menerima jenuh sebagai teman. Aku mencoba meyakinkan kalau jenuh dapat berbaik hati membawa diriku dalam damai. Aku memaksa otakku agar ia berfikir jenuh. Agar ia tak bekerja berlebihan memikirikan sesuatu yang seharusnya tidak ia pikirkan.
Seperti saat ini. Aku mencoba memanggil jenuh. Tetapi jenuh tidak kunjung datang. Aku ingin menjenuhkan mata, hati, dan fikiran. Kukira mataku sudah lelah bekerja. Mengeluarkan deras tetesan dari sudutnya. Kukira hatiku sudah lelah tersayat. Menerka hal yang tidak jelas muaranya. Dan kukira fikiranku sudah lelah berputar. Mengelilingi duniaku yang stagnan.
Jenuh, datanglah. Jenuhkan mataku yang menangis. Jenuhkan hatiku yang pedih. Jenuhkan fikiranku yang sudah lelah. Datanglah, jenuh.

Dinding aprioriku terkikis. Padahal, peduli itu menyakitkan. Semua yang telah kubangun hilang dengan satu sentilan.
8 tahun aku belajar mematikan rasa. Menutup telinga, memejamkan mata. Lelah? Tentu. Tapi apabila kubuka dinding itu, aku tau itu akan jauh lebih melelahkan.
Padahal aku tahu, dindingku telah menyakiti banyak, banyak sekali orang. Tapi di tingkat egoku ini, aku lebih memilih melindungi diriku.
Dan sekarang, dindingku sudah runtuh. Entah apa yang harus kulakukan. Membangun kembali dindingku dan menyakiti orang lain, atau menurunkan egoku dan menyakiti diri sendiri?
Aku hanya tidak mau khawatir. Aku tidak ingin merasa cemas. Itu lebih menakutkan daripada yang lain. Insecure. Kata sakti ini akhirnya terepresentasi di diriku. mungkin ada yang bisa melihat, mungkin tidak. Aku tidak pernah ingin ada orang lain yang melihatnya. Ya, ini kelemahanku. Rasa insecure yang berlebihan, yang kututupi dengan dinding tebal habis-habisan.
Mungkin, satu waktu, aku akan menghilang. Akan kucari aprioriku di tengah ilalang. Hingga kutemukan, dan kubawa pulang.
Selamat malam minggu, selamat setengah tahun, cinta.
6 bulan bisa kita anggap waktu yang seumur jagung
Tapi, 45 minggu juga bukan waktu yang sebentar
Yah, yang jelas, 182 hari sudah kita bersama, menjalani komitmen untuk saling menjaga
Mungkin selama 4368 jam ini kamu sudah mulai bosan melihat wajahku
Tapi aku yakin, dalam 262.980 menit kita bersama ini, kamu sering sekali merindukanku
Aku mencintaimu? Hmm
lebih tepatnya, dalam 15.778.800 detik ini, aku jatuh cinta kepadamu

kali ini, aku akan memberanikan diri untuk bilang, selamanya.
from the one who fell in love with u, each day
Ulima Andari
April, 21th 2012